Sabtu, 05 Maret 2011

menulis dengan hati -dan keluarga-

hhhhmmmmm..

SELAMAT MALAM..

malam minggu ini aku sama sekali tak ada jadwal untuk keluar rumah (karena memang tak pernah) jadi ku putuskan untuk membuka laptop dan posting di blog ku ini.

di blog ku ini,kalian akan melihat beberapa cerita (yang masih to be continued) hasil karangan ku sendiri,seperti Forbiden dan Destiny.
Entah mengapa,karangan buatanku selalu bernuansa gelap dan menyedihkan,jarang sekali aku membuat teenlite
atau cerita sejenisnya yang bernuansa bahagia.
Kadang faktor suasana hati juga mempengaruhi jalan cerita ku.

dulu aku pernah membuat cerita pendek tentang cinta,baguuuuuussss banget sampe bisa di muat di majalah sekolah,ceritanya tu penuh kebahagiaan dari awal hingga akhir,itu aku buat saat aku sedang jatuh cinta (waaaaahhhhh) sama kakak kelas ku yang namanya Buyung.
Awalnya aku ragu-ragu untuk mengirimkannya ke majalah sekolah,tapi karena pengen eksis (walllaaaaaaahhhh),akhirnya aku kirimkan juga naskah itu ke pengurus majalah sekolah dan 3 hari kemudian aku di beri tahu kalo naskah ku lolos,huaaaaaaaaa..bahagiaaaaaa banget rasanya..
Sebulan kemudian majalahnya terbit,aku langsung ke TU untuk membeli 1,aku sudah benar-benar tak sabar untuk membaca ceritaku di majalah itu.

aku membuka dengan cepat halaman yang memuat cerita ku,sangaaaaaat antusiaaaaaas!!

aku membaca ceritaku sendiri dari awal hingga akhir,dengan teliti dan cermat.
tapi,pas di bagian penutupan cerita,ada tulisan ::

Dedicated for Buyung Ariesta Sidiq,my lovely one.

Huuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....!!!!!!

jelas aku kaget banget..
aku lupa belum menghapus bagian itu saat menyerahkan flashdisk ke editor majalah.. T_T

teman-teman dan kakak kelas yang semula tak tau apa-apa langsung geger,mungkin mereka menganggapa aku ini terlalu ekstrim atau yang lainnya..
huuaaaahhh..aku langsung mengutuk editor mmajalah sekolah..
kenapa gak di hapus siiiihhh..!!!
sengaja pengen bikin sensasi yahhh.. T_T

hmmm..rasanya pengen nangis.
jelas aku maluuuuuu banget,dia pasti udah baca cerita ku itu dan dia pasti akan tertawa habis-habisan bersama teman-temannya..

Ya Tuhaaaann..

tapiiiiii..

ternyata dugaan ku salah besaaaaarrr..!!
Buyung mulai mendekati ku begitu tau aku menyukainya,
dia juga bilang ke temannya kalo dia tuh suka ma aku sejak pertama kali melihatku masuk SMP 7.

wwaaaaahhhh..rasanya melayang-layang.. eheheheeee..

sebulan kemudian,kami jadian..
prosesnya persis seperti yang ku tulis di ceritaku.

tapi ga bertahan lama,
seminggu kemudian,aku depak dia..
ternyata orangnya nyebelin,ga seperti yang akau kira.

hahahaaaaaaa..

kok malah cerita kaya gini siihhh yaaaaaa.. -_-

yaaa udah,lanjut aja tentang proses aku menulis cerita.

dasar tulisanku kadang terpengaruh oleh tulisan kakakku,gelap dan menyedihkan -walaupun tidak selalu begitu-

kakakku, Ratna Shinta Dewi (temukan dia dan tulisannya di http://ratnasarazene.blogspot.com ) sangat jago mengarang cerita -konotasinya kok tidak enak yah- dia selalu membantu ku dalam berbagai hal.
Dia juga yang menunjukan pada ku bahwa menulis itu gampang,di mulai dari yang ringan dulu..mungkin kelak kita bisa membuat yang lebih berat -seperti Twilight mungkin-
dari semangat yang di berikan kakak ku,aku mulai giat menulis.
di mulai dari buku harian,aku menulis semua yang ku alami di situ.
hingga akhirnya aku membuat cerita pertamaku,tentang cinta yang di rasakan oleh malaikat kematian,
tak ku sangka,cerita itu mengundang decak kagum teman-teman,kakak dan ayah ku.
semuaaaaanya langsung excited membaca cerita ku yang mengharukan itu.

Ayah ku mulai lebih giat menyemangati ku,beliau membelikan ku sebuah laptop dan printer untuk mendukung kegiatan menulisku.
Beliau juga sedikit melonggarkan waktu belajarku agar aku bisa tetap menulis apa yang ingin aku tulis.

Beliau juga membelikanku buku-buku yang mugnkin aku butuhkan untuk bahan referensi,contohnya seperti buku "The Sky is Falling" karangan Sidney Sheldon,buku itu benar-benar memberiku inspirasi yang luar biasa.

Ahhh..rasanya seperti mimpi memiliki keluarga seperti ini.

semua rasanya berjalan baik dan nyaman.

hingga sekarang,aku masih terus menulis.

aku berniat untuk membuat sebuah novel yang agak berat,aku menargetkan minimal 300 halaman untuk novel itu.Aku benar-benar harus berjuang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.

Semoga aku dan kalian semuaaaaanyaaaaaaaa -yang suka menulis- bisa terus menulis hal-hal bagus yang perlu di tulis dengan lancar.

terus menulis untuk menemukan impian.

Stephenie Meyer




Stephenie Meyer's life changed dramatically on June 2, 2003. The stay-at-home mother of three young sons woke up from a dream featuring seemingly real characters that she could not get out of her head.
"Though I had a million things to do, I stayed in bed, thinking about the dream. Unwillingly, I eventually got up and did the immediate necessities, and then put everything that I possibly could on the back burner and sat down at the computer to write—something I hadn't done in so long that I wondered why I was bothering."
Meyer invented the plot during the day through swim lessons and potty training, and wrote it out late at night when the house was quiet. Three months later she finished her first novel, Twilight. With encouragement from her older sister (the only other person who knew she had written a book), Meyer submitted her manuscript to various literary agencies. Twilight was picked out of a slush pile at Writer's House and eventually made its way to the publishing company Little, Brown where everyone fell immediately in love with the gripping, star-crossed lovers.
Twilight was one of 2005's most talked about novels and within weeks of its release the book debuted at #5 on The New York Times bestseller list. Among its many accolades, Twilight was named an "ALA Top Ten Books for Young Adults," an Amazon.com "Best Book of the Decade...So Far", and a Publishers Weekly Best Book of the Year.
The highly-anticipated sequel, New Moon, was released in September 2006, and spent more than 25 weeks at the #1 position on The New York Times bestseller list.
In 2007, Eclipse literally landed around the world and fans made the Twilight Saga a worldwide phenomenon! With midnight parties and vampire-themed proms the enthusiasm for the series continued to grow.
On May 6, 2008, Little, Brown and Company released The Host, Meyer's highly-anticipated novel for adults which debuted at #1 on The New York Times and Wall Street Journal bestseller lists. The Host still remains a staple on the bestseller lists more than a year after its debut.
On August 2, 2008, the final book in the Twilight Saga, Breaking Dawn was released at 12:01 midnight. Stephenie made another appearance on "Good Morning America" and was featured in many national media outlets, including Entertainment Weekly, Newsweek, People Magazine and Variety. Stephenie headlined the Breaking Dawn Concert Series with Justin Furstenfeld (lead singer of Blue October) to celebrate the release in four major markets across the US. Breaking Dawn sold 1.3 million copies in its first 24 hours.
The Twilight movie, directed by Catherine Hardwicke and starring Robert Pattinson and Kristen Stewart, was released on November 21, 2008. Twilight debuted at #1 at the box office with $70 million, making it the highest grossing opening weekend for a female director.
Stephenie lives in Arizona with her husband and three sons.
Here is a list of interviews with Stephenie Meyer, and links to the text, audio, or video.
________________________
Former bio
Stephenie Meyer graduated from Brigham Young University with a bachelor's degree in English. She lives with her husband and three young sons in Phoenix, Arizona. After the publication of her first novel, Twilight, booksellers chose Stephenie Meyer as one of the "most promising new authors of 2005" (Publishers Weekly).
Praise for Twilight:
  • A New York Times Editor's Choice
  • A Publishers Weekly Best Book of the Year
  • An Amazon "Best Book of the Decade...So Far"
  • A Teen People "Hot List" pick
  • An American Library Association "Top Ten Best Book for Young Adults" and "Top Ten Books for Reluctant Readers"
  • Has been translated into 20 languages
"Propelled by suspense and romance in equal parts [this story] will keep readers madly flipping the pages of Meyer's tantalizing debut."
— Publishers Weekly (starred review)
"The novel's danger-factor skyrockets as the excitement of secret love and hushed affection morphs into a terrifying race to stay alive. Realistic, subtle, succinct, and easy to follow, Twilight will have readers dying to sink their teeth into it."
— School Library Journal (starred review)

Midnight Sun: Edward's Version of Twilight

As some of you may have heard, my partial draft of Midnight Sun was illegally posted on the Internet and has since been virally distributed without my knowledge or permission or the knowledge or permission of my publisher.
I have a good idea of how the leak happened as there were very few copies of Midnight Sun that left my possession and each was unique. Due to little changes I made to the manuscript at different times, I can tell when each left my possession and to whom it was given. The manuscript that was illegally distributed on the Internet was given to trusted individuals for a good purpose. I have no comment beyond that as I believe that there was no malicious intent with the initial distribution.
I did not want my readers to experience Midnight Sun before it was completed, edited and published. I think it is important for everybody to understand that what happened was a huge violation of my rights as an author, not to mention me as a human being. As the author of the Twilight Saga, I control the copyright and it is up to the owner of the copyright to decide when the books should be made public; this is the same for musicians and filmmakers. Just because someone buys a book or movie or song, or gets a download off the Internet, doesn't mean that they own the right to reproduce and distribute it. Unfortunately, with the Internet, it is easy for people to obtain and share items that do not legally belong to them. No matter how this is done, it is still dishonest. This has been a very upsetting experience for me, but I hope it will at least leave my fans with a better understanding of copyright and the importance of artistic control.
So where does this leave Midnight Sun? My first feeling was that there was no way to continue. Writing isn't like math; in math, two plus two always equals four no matter what your mood is like. With writing, the way you feel changes everything. If I tried to write Midnight Sun now, in my current frame of mind, James would probably win and all the Cullens would die, which wouldn't dovetail too well with the original story. In any case, I feel too sad about what has happened to continue working on Midnight Sun, and so it is on hold indefinitely.
I'd rather my fans not read this version of Midnight Sun. It was only an incomplete draft; the writing is messy and flawed and full of mistakes. But how do I comment on this violation without driving more people to look for the illegal posting? It has taken me a while to decide how and if I could respond. But to end the confusion, I've decided to make the draft available here (at the end of this post). This way, my readers don't have to feel they have to make a sacrifice to stay honest. I hope this fragment gives you further insight into Edward's head and adds a new dimension to the Twilight story. That's what inspired me to write it in the first place.
I do want to take a moment and thank the wonderful fans who have been so supportive of me over the past three years. I cannot begin to tell you how much each of you means to me. I only hope this note will stop all the confusion and online speculation so that the Twilight universe can once again become the happy escape it used to be. After this incredibly busy year, I am now focusing on spending more time with my family and working on some other writing projects.
 
--Stephenie

The Story Behind Twilight

The Writing: I know the exact date that I began writing Twilight, because it was also the first day of swim lessons for my kids. So I can say with certainty that it all started on June 2, 2003. Up to this point, I had not written anything besides a few chapters (of other stories) that I never got very far on, and nothing at all since the birth of my first son, six years earlier.
I woke up (on that June 2nd) from a very vivid dream. In my dream, two people were having an intense conversation in a meadow in the woods. One of these people was just your average girl. The other person was fantastically beautiful, sparkly, and a vampire. They were discussing the difficulties inherent in the facts that A) they were falling in love with each other while B) the vampire was particularly attracted to the scent of her blood, and was having a difficult time restraining himself from killing her immediately. For what is essentially a transcript of my dream, please see Chapter 13 ("Confessions") of the book.
Though I had a million things to do (i.e. making breakfast for hungry children, dressing and changing the diapers of said children, finding the swimsuits that no one ever puts away in the right place, etc.), I stayed in bed, thinking about the dream. I was so intrigued by the nameless couple's story that I hated the idea of forgetting it; it was the kind of dream that makes you want to call your friend and bore her with a detailed description. (Also, the vampire was just so darned good-looking, that I didn't want to lose the mental image.) Unwillingly, I eventually got up and did the immediate necessities, and then put everything that I possibly could on the back burner and sat down at the computer to write—something I hadn't done in so long that I wondered why I was bothering. But I didn't want to lose the dream, so I typed out as much as I could remember, calling the characters "he" and "she."
From that point on, not one day passed that I did not write something. On bad days, I would only type out a page or two; on good days, I would finish a chapter and then some. I mostly wrote at night, after the kids were asleep so that I could concentrate for longer than five minutes without being interrupted. I started from the scene in the meadow and wrote through to the end. Then I went back to the beginning and wrote until the pieces matched up. I drove the "golden spike" that connected them in late August, three months later.
It took me a while to find names for my anonymous duo. For my vampire (who I was in love with from day one) I decided to use a name that had once been considered romantic, but had fallen out of popularity for decades. Charlotte Bronte's Mr. Rochester and Jane Austen's Mr. Ferrars were the characters that led me to the name Edward. I tried it on for size, and found that it fit well. My female lead was harder. Nothing I named her seemed just right. After spending so much time with her, I loved her like a daughter, and no name was good enough. Finally, inspired by that love, I gave her the name I was saving for my daughter, who had never shown up and was unlikely to put in an appearance at this point: Isabella. Huzzah! Edward and Bella were named. For the rest of the characters, I did a lot of searching in old census records, looking for popular names in the times that they'd been born. Some trivia: Rosalie was originally "Carol" and Jasper was first "Ronald." I like the new names much better, but every now and then I will slip up and type Carol or Ron by accident. It really confuses the people who read my rough drafts.
For my setting, I knew I needed someplace ridiculously rainy. I turned to Google, as I do for all my research needs, and looked for the place with the most rainfall in the U.S. This turned out to be the Olympic Peninsula in Washington State. I pulled up maps of the area and studied them, looking for something small, out of the way, surrounded by forest... And there, right where I wanted it to be, was a tiny town called "Forks." It couldn't have been more perfect if I had named it myself. I did a Google image search on the area, and if the name hadn't sold me, the gorgeous photographs would have done the trick. (Images like these of the Hoh Rainforest (a short drive from Forks). Also see forks-web.com ). In researching Forks, I discovered the La Push Reservation, home to the Quileute Tribe. The Quileute story is fascinating, and a few fictional members of the tribe quickly became intrinsic to my story.
All this time, Bella and Edward were, quite literally, voices in my head. They simply wouldn't shut up. I'd stay up as late as I could stand trying to get all the stuff in my mind typed out, and then crawl, exhausted, into bed (my baby still wasn't sleeping through the night, yet) only to have another conversation start in my head. I hated to lose anything by forgetting, so I'd get up and head back down to the computer. Eventually, I got a pen and notebook for beside my bed to jot notes down so I could get some freakin' sleep. It was always an exciting challenge in the morning to try to decipher the stuff I'd scrawled across the page in the dark.
During the day, I couldn't stay away from the computer, either. When I was stuck at swim lessons, out in 115 degrees of Phoenix sunshine, I would plot and scheme and come home with so much new stuff that I couldn't type fast enough. It was your typical Arizona summer, hot, sunny, hot, and hot, but when I think back to those three months, I remember rain and cool green things, like I really spent the summer in the Olympic Rainforest.
When I'd finished the body of the novel, I started writing epilogues...lots of epilogues. This eventually clued me in to the fact that I wasn't ready to let go of my characters, and I started working on the sequel. Meanwhile, I continued to edit Twilight in a very obsessive-compulsive way.
My older sister, Emily, was the only one who really knew what I was up to. In June, I'd started sending her chapters as I finished them, and she soon became my cheerleading section. She was always checking in to see if I had something new for her. It was Emily who first suggested, after I'd finished, that I should try to get Twilight published. I was so stunned by the fact that I'd actually finished a whole, entire book, that I decided to look into it.
Getting Published: To put it mildly, I was naive about publishing. I thought it worked like this: you printed a copy of your novel, wrapped it up in brown paper, and sent it off to a publishing house. Ho ho ho, that's a good one. I started googling (naturally) and began to discover that this was not the way it is done. (Movies lie to us! Why?! A side note: you will not be able to enjoy the new Steve Martin version of Cheaper by the Dozen when you know how insanely impossible the publishing scenario it contains is.) The whole set up with query letters, literary agents, simultaneous submissions vs. exclusive submissions, synopsizes, etc., was extremely intimidating, and I almost quit there. It certainly wasn't belief in my fabulous talent that made me push forward; I think it was just that I loved my characters so much, and they were so real to me, that I wanted other people to know them, too.
I subscribed to WritersMarket.com and compiled a list of small publishers that accepted unsolicited submissions and a few literary agencies. It was around this time that my little sister, Heidi, mentioned Janet Evanovich's website to me. In her Q and A for writers section, Janet E. mentioned Writers House, among a few others, as "the real thing" in the world of literary agencies. Writers House went on my wish list as the most desirable and also least likely.
I sent out around fifteen queries (and I still get residual butterflies in my stomach when I drive by the mailbox I sent the letters from—mailing them was terrifying.). I will state, for the record, that my queries truly sucked, and I don't blame anyone who sent me a rejection (I did get seven or eight of those. I still have them all, too). The only rejection that really hurt was from a small agent who actually read the first chapter before she dropped the axe on me. The meanest rejection I got came after Little, Brown had picked me up for a three-book deal, so it didn't bother me at all. I'll admit that I considered sending back a copy of that rejection stapled to the write-up my deal got in Publisher's Weekly, but I took the higher road.
My big break came in the form of an assistant at Writers House named Genevieve. I didn't find out until much later just how lucky I was; it turns out that Gen didn't know that 130,000 words is a whole heck of a lot of words. If she'd known that 130K words would equal 500 pages, she probably wouldn't have asked to see it. But she didn't know (picture me wiping the sweat from my brow), and she did ask for the first three chapters. I was thrilled to get a positive response, but a little worried because I felt the beginning of the book wasn't the strongest part. I mailed off those three chapters and got a letter back a few weeks later (I could barely get it open, my hands were so weak with fear). It was a very nice letter. She'd gone back with a pen and twice underlined the part where she'd typed how much she enjoyed the first three chapters (I still have that letter, of course), and she asked for the whole manuscript. That was the exact moment when I realized that I might actually see Twilight in print, and really one of the happiest points in my whole life. I did a lot of screaming.
About a month after I sent in the manuscript, I got a call from Jodi Reamer, an honest to goodness literary agent, who wanted to represent my book. I tried really hard to sound like a professional and a grownup during that conversation, but I'm not sure if I fooled her. Again, my luck was tremendous (and I don't usually have good luck—I've never won anything in my life, and no one ever catches a fish when I'm in the boat) because Jodi is the uber-agent. I couldn't have ended up in better hands. She's part lawyer, part ninja (she's working on earning her black belt right now, no kidding), a pretty amazing editor in her own right, and a great friend.
Jodi and I worked for two weeks on getting Twilight into shape before sending it to editors. The first thing we worked on was the title, which started out as Forks (and I still have a teeny soft spot for that name). Then we polished up a few rough spots, and Jodi sent it out to nine different publishing houses. This really messed with my ability to sleep, but luckily I wasn't in suspense for long.
Megan Tingley, of Megan Tingley Books, of Little, Brown and Company, read Twilight on a cross-country flight and came back to Jodi the day after the Thanksgiving weekend with a preemptive deal so huge that I honestly thought Jodi was pulling my leg—especially the part where she turned the offer down and asked for more. The upshot was that, by the end of the day, I was trying to process the information that not only was my book going to be published by one of the biggest young adult publishers in the country, but that they were going to pay me for it. For a very long time, I was convinced it was a really cruel practical joke, but I couldn't imagine who would go to these wild extremes to play a hoax on such an insignificant little hausfrau.
And that's how, in the course of six months, Twilight was dreamed, written, and accepted for publication.
Things keep getting crazier, what with the movie deal and all the pre-publication attention that Twilight continues to receive. Though I've gotten impatient from time to time, I'm glad I've had the last two years to try to come to terms with the situation. I'm greatly looking forward to finally having Twilight on the shelves, and more than a little frightened, too. Overall, it's been a true labor of love, love for Edward and Bella and all the rest of my imaginary friends, and I'm thrilled that other people get to meet them now.

love

i knew that what i really hate was myself.And i would hate us both so much when he was dead.
but the bell rang.Saved by the bell-how cliche.We were both saved from death.I,saved for just a short time from being the nightmarish creature I feared and loathed.. sorry for my never ending selfishness. Sorry that he was so unfortunate as to have inspired this first,tragic love of mine.Sorry also for the things beyond my control-that i'd been the monster chosen by fate to end his life in the first place.

The Sky is Falling

Cerita dalam novel ini di awali dengan kembalinya Dana Evans reporter dan presenter berita televisi dari tugasnya meliput konflik di wilayah Balkan. Konflik yang membawa kenangan buruk dalam ingatannya tentang pembantaian, kekerasan dan berbagai kejahatan kemanusiaan lainnya. Terbunuhnya Gary Winthrop salah satu pewaris dinasti Winthrop yang begitu berpengaruh, kaya dan populer karena aktivitasnya di berbagai kegiatan sosial, menarik perhatian Dana Evans. Nalurinya sebagai seorang jurnalis tergugah ketika Dana mencurigai ada sesuatu yang tidak wajar di balik kematian beruntun kelima anggota keluarga Winthrop.
Dana kembali berpetualang ke berbagai belahan dunia seperti Roma, Aspen, Nice, Moscow, Brussels, dan Siberia untuk mengungkap apa yang terjadi di balik pembunuhan keluarga Winthrop. Petualangan Dana begitu menegangkan, beberapa kali dia harus meloloskan diri dari maut yang selalu mengintainya. Belum lagi persoalan Kemal, anak korban konflik Balkan yang kemudian diadopsinya, ternyata belum mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Hasil investigasi Dana benar-benar mengejutkan mulai dari penjualan Plutonium secara rahasia oleh pihak Rusia sampai dengan perjalanan “aneh” di Krasnoyarsk-26, kota rahasia di bawah tanah Siberia yang mampu memproduksi nuklir. Dana mencurigai ada keterlibatan “orang-orang penting” di Amerika Serikat. Penemuan Dana itu membuat nyawanya semakin terancam termasuk juga Kemal yang akhirnya dijadikan sandera oleh seseorang yang selama ini menjadi “otak” konspirasi jahat tersebut.
Berikut ini adalah beberapa teknik-teknik mendapatkan sekolah untuk jenjang S2 dan S3 ‘gratis’ di luar negeri.


Bagaimana caranya bisa bersekolah ‘gratis’ di luar negeri. Saya memberikan tanda kutip pada ‘gratis’ karena sebenarnya tidak 100% modal dengkul. Dalam beberapa kasus, at least kita harus bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang untuk tiket pesawat + biaya hidup bulan pertama, dan situasi mungkin tidak memungkinkan kita untuk berkeluarga terlebih dahulu.
Jenis beasiswa yang akan saya utarakan pertama adalah jenis beasiswa yang kansnya tinggi untuk mendapatkannya. Biasanya beasiswa jenis ini adalah beasiswa jenis riset, dan untungnya, hampir semuanya tanpa ikatan dinas. Untuk beberapa jenis beasiswa, mereka lebih senang kalau sang pelamar bekerja untuk institusi pendidikan, lembaga penelitian, atau LSM.
Satu rule of thumb yang patut dihayati adalah: ‘kita harus berkelat-kelit untuk mendapatkan beasiswa S2, tapi relatif jauh lebih mudah untuk mendapatkan beasiswa S3′. Makanya jika Anda mengejar waktu, sebaiknya ambil dulu S2 di Indonesia, sambil juga melamar S2/S3 di tempat lain. Kalau dapat S2 gratis di luar negeri, ya yang di Indonesia ditinggal saja.
Daftar Beasiswa Berdasarkan Negara
Secara umum, beasiswa ini memiliki karakteristik:
· tidak memiliki ikatan dinas sama sekali
· mahasiswa harus mengerjakan penelitian sesuai minatnya, dan sekaligus sebagai thesisnya 1. Amerika Serikat
Biasanya sekolah sekolah bagus di Amerika Serikat, (katakanlah top 50 pada bidangnya) sering memberikan beasiswa yang disebut stipend, meskipun baru mahasiswa S2. Besarnya stipend sekitar US$1000-1400, tergantung lokasi. Yang jelas cukup sekali untuk hidup. Mahasiswa yang menerima stipend itu, juga tidak perlu membayar uang sekolah (tuition fee). Lamanya stipend adalah per semester, tapi saat summer biasanya diberikan pekerjaan lain di universitas (mostly guaranteed). Kalau sedang sial (jarang sekali), tidak dapat assistantship untuk semester itu, ya pulang saja ke Indonesia dahulu.
Syarat penting mendapat beasiswa adalah harus mau menjadi teaching assistant atau research assistant.
Teaching assistant bertugas membantu proses belajar-mengajar di kelas, seperti fotokopi, setup komputer di lab untuk kelas itu, memeriksa tugas-tugas, dan memberikan tutorial di luar jam kelas. Sedangkan research assistant bertugas membantu professor di lab, seperti membuatkan program untuknya, mengatur laboratioriumnya, membuat dokumentasi riset dan sebagainya. Mahasiswa selain melakukan penelitian, juga masih diwajibkan untuk mengambil coursework (kelas).
Memang harus diakui bahwa ada beberapa sekolah terkenal yang hanya memberikan jaminan beasiswa kepada mahasiswa S3. Untungnya, di AS, mahasiswa S1 bisa langsung masuk program S3, dimana di tengah-tengah perjalanan menumpuh S3 itu ada sertifikat bahwa ybs sudah melampaui jenjang S2. Jadi bisa ngerti sendirilah … :-p
Untuk mendaftar ke pendidikan pascasarjana ke AS, biasanya mereka mengharuskan pelamar memberikan hasil nilai TOEFL dan GRE General Test resmi dari ETS (www.ets.org). Beberapa universitas terkemuka juga mengharuskan mengambil GRE Subject Test, misalnya GRE Computer Science, GRE Biology, GRE Economics, dan sebagainya.
Di Jakarta, cabang ETS terletak di Menara Emporium, Jl.Rasuna Said, Kuningan. Biaya TOEFL sekitar US$60, GRE sekitar US$120. Kalau punya TOEFL > 580 (standar nilai lama) dan GRE General Test > 1750 saya sarankan pergi ke AS.
Bahkan, saya sarankan untuk mendaftar di top 20 jika memiliki GRE > 1900. Go for it!
Pelamar dapat mendownload formulir pendaftaran langsung dari website universitas tersebut.
Dalam formulir pendaftaran itu, biasanya ada pertanyaan dari mana sumber pendanaan untuk kuliah nanti. Pilihlah option untuk ‘menggantungkan sepenuhnya pada universitas dengan stipend assistantship’. Biaya pendaftaran biasa antar US$30-$60.
Kemudian mereka biasanya menyuruh kita untuk membuat statement of purpose. Tujuan dari statement of purpose adalah untuk meyakinkan bahwa Anda layak dapat beasiswa.
Anda harus menunjukkan ‘kemampuan’ Anda, jangan malah merendahkan diri! Statement of purpose isinya:
1. mengapa kita ingin melakukan pendidikan tinggi
2. bidang peminatan kita apa, kalau bisa tunjukkan sedikit pengetahuan Anda mengenai ‘trend’ di bidang riset itu.
3. mengapa kita ingin melakukan riset di bidang itu
4. kalau sudah selesai mau jadi apa dan mau bekerja di mana (akademisi, industri, profesional, etc.) sebagai apa
Selain itu Anda sebaiknya juga menceritakan:
1. kalau mungkin, tunjukkan bahwa Anda memiliki kompetensi di bidang itu (jadi memang ada baiknya dari sekarang Anda sudah memiliki bidang yang fokus).
2. tunjukkan bahwa Anda bisa menjadi asisten pada mata kuliah S1 apa saja (jika jadi teaching assistant). Tapi jelaskan pula bahwa Anda bisa ‘fleksibel’.
Karena biasanya statement of purpose itu harus singkat dan lugas (sekitar 1/2 halaman, max 1 halaman), kalau perlu Anda menceritakan 2 point di atas di luar statement of purpose. Tapi kalau masih muat, ya masukkan saja dalam statement of purpose.
Sebelum mendaftar, ada baiknya jika Anda memastikan terlebih dahulu bahwa bidang Anda minati, ada profesor yang memiliki minat yang kurang lebih sama di universitas itu. Sebaiknya, bercakap-cakap dahululah dengan profesor tersebut, katakan bahwa saya tertarik untuk melakukan riset. Tanyakan pula apakah dia berminat mengambil Anda menjadi mahasiswanya. Jangan lupa cari muka sedikit :-) . Hal ini akan sedikit memperlicin jalan saat seleksi mahasiswa baru. Sekedar info, biasanya universitas di AS tidak meminta research plan yang kongkrit, karena baru saat di sana nanti merencanakan riset.
By the way, sebelum pergi ke AS, kita juga harus memiliki persediaan uang selama satu bulan ($1500+), plus tiket pesawat ke Amerika Serikat.(sekitar $700).

2. Kanada

Sama seperti Amerika Serikat, dan banyak diantara mereka tidak memerlukan GRE Subject Test. Meskipun ada Canadian Education Centre (CEC) di World Trade Center, Jl.Jendral Sudirman, tapi saya pikir cukup ke website universitasnya saja.
3. Jerman
Di negara-negara Eropa daratan (excluding British), biasanya tidak mengenal program bachelor (S1), karena bachelor adalah pola pendidikan Anglo-Saxon. Yang bisa dibilang dekat dengan S1-nya adalah program-program politeknik. Nah, oleh karena itu lulusan S1 Indonesia harus diupgrade agar sama dengan lulusan uni Eropa daratan, yakni Doktorandus (Drs), Diplom (Dipl) atau Licente (Lc). Gelar kesarjanaan ini sama dengan S2.
Seperti banyak kita ketahui, universitas-universitas di Jerman sama sekali tidak memungut biaya. Tapi tentu saja kita harus memiliki sumber pendanaan untuk biaya hidup.
DAAD (www.daad.de) adalah lembaga Jerman yang menyediakan informasi pendidikan dan juga informasi beasiswa di Jerman. Kantornya di Jakarta berlokasi di Gedung Sumitmas II, Jl.Jendral Sudirman, di depan Depdikbud. Mereka memiliki program beasiswa setiap tahun. Skim beasiswa yang disediakan DAAD mencakup S2, S3, sandwich program, riset 3-6 bulan, dan juga postdocotoral research. Tiket pesawat disediakan. Kalau dapat beasiswa dari DAAD, bisa modal dengkul.
Ada pula beasiswa dari industri seperti dari Siemens besarnya 1200 DM. Tidak harus pegawai negeri.
Untuk belajar di Jerman tidak harus melalui DAAD. Kalau untuk S3, setiap mahasiswa S3 pasti mendapatkan beasiswa. Jadi bisa saja setelah Anda lulus S2, Anda langsung mencari universitas di Jerman yang kebetulan ada profesor yang bidangnya sama dengan bidang peminatan Anda, dan melamar. Tapi tentu Anda akan butuh mencukupi sendiri biaya hidup 1 bulan dan tiket pesawat ke Jerman.
Untungnya, berbeda seperti di AS dan Kanada, biasanya di Jerman, Belanda, Austria, Belgia dan Switzerland, tidak memiliki kewajiban jadi teaching assistant atau research assistant. Kalaupun ada biasanya cuma 1 session tutorial per minggu. Tidak berat sama sekali. Kalaupun kita disuruh menulis paper, itu juga biasanya untuk kepentingan kita juga. Gaji (atau katakanlah beasiswa) kita cukup sekali untuk hidup.
Jangan lupa kontak profesornya dahulu (sama dengan cara yang di AS). Kirimkan pula statement of purpose dan research plannya. Kalau perlu diskusikan dahulu research plannya (biar cocok dengan pembimbingnya) sebelum mendaftar ke universitasnya.
Isi research plan itu standar-standar saja: latar belakang masalah, problem, metodologi penelitan, bagaimana kamu kira-kira akan memecahkan masalah tersebut, dll. Garis besarnya saja, asal bisa memberikan gambaran apa yang akan Anda teliti.
Saya sarankan untuk mengambil kursus bahasa Jerman di Goethe Institute, karena paling sedikit ada 3 negara yang menyediakan beasiswa, menggunakan bahasa Jerman, yakni Jerman, Switzerland dan Austria. Peluang beasiswa menjadi meningkat. Sudah begitu, kalau sudah bisa Jerman, belajar bahasa Belanda jadi gampang sekali.
Sebenarnya kalau Anda menempuh S3, dalam realitanya tidak harus menggunakan bahasa Jerman saat berdiskusi dengan peer atau profesor. Hal ini karena tidak banyak orang yang mau mengikuti program S3, dan biasanya universitas itu yang ‘membutuhkan’ mahasiswa S3. Cuma, untuk meningkatkan probabilitas mendapatkan beasiswa, kenapa tidak belajar bahasa Jerman?
4. Belanda
Sama persis dengan Jerman, hanya saja nama lembaga penyalur informasi pendidikannya adalah Netherlands Education Center (NEC). Di Jakarta lokasinya di Gedung Patra Jl.Gatot Subroto, Kuningan. Kantornya bersebelahan dengan kantor kamar dagang Belanda di Indonesia.
Sekolah di Belanda juga gratis, tapi yang international programme biasanya tidak gratis. Pemerintah Belanda juga menyediakan skim beasiswa yang saingannya lumayan banyak, namanya beasiswa TALIS.
NEC juga menyediakan informasi beasiswa tahunan yang disediakan langsung oleh universitas-universitas di Belanda. Selain itu ada juga program-program internasional yang berbahasa Inggris. Sayangnya untuk level S2 (Drs, Ir.), beasiswa kelas-kelas berbahasa Inggris itu biasanya cuma 1/2 uang tution fee dan sulit mendapatkannya.
Untuk S3, gratis dan digaji, sama seperti Jerman.
Informasi lebih lanjut bisa hubungi:
Netherlands Education Centre
Citra Graha 7th floor, suite 703
Jl. Jend. Gatot Subroto kav. 35-36
Jakarta 12950
Indonesia
Phone (62 21) 5200453, 5201085
Fax (62 21) 5200457
E-mail: necjkt@ibm.net

5. Austria & Swiss

Secara umum sama seperti Jerman. Tiap tahun kedutaan Austria dan Switzerland juga menyediakan beasiswa, namun berbeda dengan Belanda dan Jerman, mereka tidak menyediakan beasiswa S2 sama sekali. Yang mungkin adalah gelar S2 dari Indonesia, tapi sandwich di sana (penelitian 6 bulan – 1 tahun). Tapi tentu masih mendapat sertifikat. Selain itu tentunya beasiswa dari kedutaan Austria dan Switzerland juga ada yang untuk S3. Semuanya lengkap dengan tiket pesawat dan ongkos hidup. Practically bisa dengan modal dengkul kalau dapat beasiswanya.
Saat interview di kedutaan biasanya akan ditanya hal-hal yang sama seperti dalam statement of purpose dan research plan. Di kedutaan Swiss juga ada test bahasa, sekedar untuk menguji saja, toh nanti juga disekolahkan di sekolah bahasa di Swiss sebelum masuk kuliah. Tergantung Anda memilih sekolah di mana, ada universitas di Swiss yang berbahasa Perancis, seperti misalnya di Geneva. Tapi kalau di sebelah utara dan timur, umumnya berbahasa Jerman.
Anda juga bisa daftar langsung ke universitas yang bersangkutan, terutama untuk program S3, dengan cara sama seperti Jerman & Belanda. Gratis dan digaji juga.
E-mail kedutaan besar Swiss (di Jl.Rasuna Said, dekat Erasmus Huis): swiemjak@rad.net.id
6. Jepang
Sebenarnya kalau sampai di Jepang sana, cukup banyak beasiswa, namun sayangnya tidak banyak yang full membiayai uang kuliah dan biaya hidup. Bahkan untuk S3 saja juga harus bayar.
Pemerintah Jepang menyediakan juga beasiswa Monbusho kepada orang-orang Indonesia. Ada dua jenis beasiswa Mombusho. Yang pertama pelamar harus pegawai negeri atau dosen. Melalui jalur ini, pelamar kalau lolos seleksi akan dicarikan pembimbing/profesor yang cocok sesuai minat. Sedangkan yang satu lagi sang pelamar harus aktif mencari sang profesor, dan menanyakan apakah si profesor tersebut bersedia menjadi pembimbing riset pelamar. Klik di sini untuk informasi lengkap mengenai beasiswa Monbusho.
Di kedutaan Jepang Jl.MH Thamrin, terdapat perpustakaan yang berisi informasi pendidikan tinggi di Jepang.
Informasi mengenai beasiswa di Jepang di bawah ini saya dapatkan dari rekan saya Rahmat:
a. INPEX Foundation
Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Beasiswa ini tidak mengikat (tidak ada ikatan dinas). Test dan sistem seleksinya diadakan di Indonesia. Beasiswa ini mengcover juga tiket pp Indonesia – Jepang. Pendaftaran dibuka dari tanggal 1 Agustus dan deadline penyerahan dokumen tanggal 15 Nopember. Besarnya beasiswa 160.000 yen/bulan. Uang kuliah, uang
pendaftaran, uang ujian masuk ditanggung semua oleh sponsor. Formulir applikasinya bisa di dapat di alamat berikut :
14 F Ebisu Neorato 4-1-18 Ebisu, Shibuya-ku, Tokyo 150-0013 JAPAN
b. The OKAZAKI Kaheita International Scholarship Foundation
Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Beasiswa ini tidak mengikat (tidak ada ikatan dinas). Test dan sistem seleksinya diadakan di Indonesia. Beasiswa ini mengcover juga tiket pp Indonesia – Jepang. Formulir applikasinya bisa di dapat di alamat berikut :
3-2-5 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013 JAPAN
c. The Hitachi Scholarship
Beasiswa ini bisa untuk S2 ataupun S3. Syaratnya harus alumni dari ITB, UI, UGM, IPB dan formulir bisa diambil dan ditanyakan dari rektorat masing-masing universitas tsb diatas. Beasiswa ini juga mengcover tiket pp Indonesia – Jepang, uang kuliah, uang pendaftaran, uang ujian masuk, perumahan ditanggung juga, dan uang beasiswa 180.000 yen/bulan.
Informasi lebih lanjut bisa di dapat di :
1-5-1 Marunouchi, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0005 JAPAN
d. Matsushita Electric Industrial Co., Ltd
Panasonic Scholarship Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Tidak ada ikatan dinas dalam beasiswa ini. Pendaftaran dibuka bulan February – Maret. Beasiswa ini juga mengcover tiket pp Indonesia – Jepang. Uang kuliah, uang
pendaftaran, uang ujian masuk ditanggung oleh sponsor, uang beasiswa 200.000 yen/bulan.
Informasi lengkap lihat di http://www.panasonic.co.id/
atau kontak e-mail : PAN11311@pas.mei.co.jp
Panasonic Scholarship, Matsushita Electric Industrial Co., Ltd
1006 Kadoma Osaka, 571-8501 JAPAN
e. Beasiswa dari Aichi Prefecture, Aichi Scholarship
Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Tidak ada ikatan dinas dalam beasiswa ini. Deadline penyerahan application 20 Mei. Syarat yang harus dipenuhi, Universitas yang dipilih harus berada di Aichi Prefecture. Uang kuliah, uang pendaftaran, uang ujian masuk ditanggung oleh sponsor, uang beasiswa 185.000 yen/bulan. Informasi lebih lanjut bisa di dapat di : Aichi Prefectural Office, 3-1-2 Sannomaru, Naka-ku, Nagoya-shi, Aichi 460-01 JAPAN
f. The Japan Securities Scholarship Foundation
Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Tidak ada ikatan dinas dalam beasiswa ini. Application dari bulan Januari sampai Mei. Beasiswa mengcover tiket pesawat, Uang kuliah, bantuan biaya perumahan (apartemen), dan uang beasiswa bulanan sebesar 120.000 yen. Beasiswa ini diberikan buat jurusan Social Science, Humanities. Informasi lebih lanjut bisa di dapat di :
Tokyo Shoken Building
5-8 Kayabacho, 1-chome, Nihonbashi, Chuo-ku, Tokyo 103-0025 JAPAN
7. Singapura
Singapura memiliki dua universitas ‘negeri’, yakni National University of Singapore (NUS), dan yang lebih baru yakni Nanyang Technological University (NTU). Memang harus diakui bahwa NUS bukan sekolah ‘bule’ (meskipun banyak pengajarnya dari manca negara), tapi peringkat NUS selalu berada di top 10 universitas di Asia, dan selalu diatas seluruh universitas Australia. Meskipun untuk orang awam seolah-olah tidak membanggakan (karena bukan sekolah bule), namun reputasi internasional NUS memudahkan mahasiswanya dan lulusannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Singapura melalui kedua universitas itu ada yang berbasis coursework (sulit masuknya, saingannya ketat dari seluruh ASEAN), dan ada lagi yang berbasis riset S2/S3 (lebih mudah). Untuk mendapatkan beasiswa berbasis riset, dalam formulir pendaftaran (download dari www.nus.edu.sg atau www.ntu.edu.sg) juga lampirkan proposal riset (research plan). Bahkan kadang-kadang bisa tanpa proposal riset, dengan cara bercakap-cakap dengan profesornya terlebih dahulu (via e-mail) dan meminta sang profesor memberikan alternatif research plan. Pokoknya asal menunjukkan minat melakukan penelitian.
Beasiswa (gaji) bulanan yang diterima adalah SG$1400, tanpa tiket pesawat (kecuali yang ASEAN scholarship). Biaya hidup bulanan (hidup enak) sekitar SG$1000, jadi masih bisa menabung SG$400 per bulannya.
8. Australia & Inggris
Seperti kita ketahui Australia menyediakan beasiswa tahunan AusAID yang saingannya berjibun. Pusat informasi pendidikan Australia adalah IDP, berlokasi di Jl.Rasuna Said.
Sedangkan Inggris juga menyediakan beasiswa S2 dan S3 tahunan (British Chivening) yang pelamarnya banyak sekali. Informasi tersebut bisa didapatkan di British Council, Widjojo Centre. Beasiswa diberikan kepada 80% pegawai negeri dan 20% swasta.
Perlu diberitahukan juga bahwa di British Council tersebut juga sering ada pengumuman beasiswa untuk S2/S3, hanya saja sayangnya hampir semua beasiswa tersebut parsial (misalnya 1/2 uang tuition).
Australia dan Inggris adalah negara-negara yang terkenal pelit dalam soal beasiswa, mentang-mentang pakai bahasa Inggris. Kasarnya, mereka mengkomersilkan pendidikan. Bahkan untuk S3, harus bayar. Kalaupun ada program beasiswa, saingannya banyak sekali.
Tapi jangan putus asa. Kalau ada kemauan, maka ada jalan. Beberapa universitas di Australia, menyalurkan beasiswa riset dari pemerintah Australia untuk jenjang S2/S3 terbatas kepada pelamar internasional (bukan AusAID), termasuk biaya hidup (tanpa tiket pesawat dan settlement cost). Hanya saja saingannya lumayan banyak, meskipun tidak seketat AusAID. Dalam formulir pendaftaran yang biasanya bisa didownload langsung dari website universitas, jangan lupa cantumkan statement of purpose dan research plan.
Tapi saya juga pernah ditawari untuk mengajar program bachelor di Australia (mungkin saat itu mereka sedang kekurangan dosen), sekaligus mengambil program S3. Jadi ada kans untuk mengajar atau jadi tenaga peneliti, sekaligus mengambil S3. Tinggal pintar-pintarnya kita saja membujuk mereka agar mau mengambil kita. Manfaatkan kunjungan-kunjungan lembaga pendidikan Australia ke Indonesia untuk merekrut mahasiswa S1, untuk mencari kemungkinan S3 sekaligus bekerja di universitas itu.
Kemudian University of Cambridge (www.cambridge.ac.uk) juga menyediakan beasiswa lepasan tanpa ikatan dinas.